Rabu, Juli 02, 2008

Ketika Hujan Turun Tanpa Mendung

Ketika hujan turun tanpa mendung
Ketika matahari tak lagi panas
Ketika bintang berani menampakkan diri di siang hari
Apakah ini pertanda, bahwa dunia akan segera berakhir?
Dan semua tawa dan tangis berubah menjadi kemurungan?
Ohh.. aku takut..
Belum lagi hujan deras mereda, muncullah badai besar melanda..
Mawar sudah pasti tak mau menjelma jadi rumput
Dan rumput pun sudah pasti tak suka diinjak-injak..

Aku Mencintaimu

Bila gunung tiada bertebing
Langit dan bumi bersatu..
Aku baru berani menolakmu

Saat gunung tidak lagi bersanding
Sungai tak lagi mengalir
Angin tak mampu berhembus
4 Musim tidak lagi berganti
Siang malam tak bisa dibedakan
Dan semua benda menjadi sirna
Aku tetap tak bisa berpisah denganmu

Senyummu merupakan penungguan terbesar dalam hidupku
Kelembutanmu merupakan cinta remaja terindah dalam hidupku

Saat kita didampingi wanita cantik
Hidup penuh tawa gembira
Dengan gegap gempita
Ambil masa muda
Berkuda bersama..
Melagukan kata hati..

Akulah Mobil.. Dialah.. Sopirnya

aku adalah mobil.. dan dia sopirnya.
Sopir belok ke kanan.. mobil pun nurut belok ke kanan.
Sopir belok ke kiri.. mobil pun nurut belok ke kiri.
Sopir nge-rem.. mobil pun berhenti.
Sopir ngebut.. mobil pun tanpa pernah membantah, mengeluarkan tenaganya untuk memercepat langkah.

Dia bilang a, aku gak bisa bilang b.
Dia bilang b, aku gak bisa bilang c.
Dia mau ini, aku gak bisa mau itu.
Dia mau itu, aku gak bisa mau ini.

Mobil adalah benda mati, yang dikendalikan oleh sopir.
Aku adalah gadis tanpa harapan, yang dikendalikan oleh Dia yang bengis dan kejam.

Aku tak bisa lepas.
Karena aku.. mencintainya
Aku tak ingin lepas.
Meski pada akhirnya nanti.. dia akan mengakhiri usia panjangku..

Cerita Yang Tak Masuk Akal

Kau tak percaya.. ya sudah..
Kalian tak percaya.. ya sudah..
Mereka tak percaya.. ya sudah..
Aku tak akan memaksa..

Mau percaya..
Mau tidak percaya..
Terserah saja..
Aku juga tak akan memaksa..

Malam itu, aku bercerita
Tentang perjalananku menuju masa depan
Bodohnya aku.. kenapa harus cerita?
Membuat diriku ditertawakan olehmu saja..

Sudalah..

Wo Se Yi Mung Mung

Malam itu.. malam yang aneh bagiku..
Aku sedang terluka..
Berjalan di tengah kegelapan
Tersiram air hujan yang lebat..

Mendadak, kabut itu datang
Menyentuh hatiku yang sedang berduka
Aku tak sanggup mengusirnya
Cinta pun ikut datang mengobrak-abrik dendam dan kasih sayangku..

Aku sungguh tak mampu..
Benar-benar tak berdaya..
Mempertahankan hidup ini..
Apalagi saat kabut itu mulai sirna..
Digantikan oleh terik panas kebencianku..
Aku tak kuasa..
Kabut.. kembalilah..

Aku Benci Kamu

Kau pikir, kau ini siapa?
Kau tak punya hak permainkan aku seperti ini
Ini diriku, milik diriku, bukan untuk kau hina
Kau pun tak punya alasan `tuk membenciku begini

Seharusnya yang marah itu aku
Karena kau permainkan aku
Seharusnya yang minta maaf itu kamu
Karena yang salah itu kamu

Kenapa harus aku yang mengalah?
Padahal sudah sering kau menang
Kenapa harus aku yang menurut?
Padahal setiap hari kau selalu berkuasa

Aku benci kamu
Ingin ku caci dirimu
Namun ku tak berdaya
Karena aku pun mencintaimu

Aku benci kamu
Ingin ku maki dirimu
Namun aku tak mampu
Karena aku takut kehilanganmu...

Tuk Lelaki Bernafsu, Dari Wanita Korbannya

kau mau marah?
silahkan..
Mau caci maki dirku?
ayo, silahkan..
Ada banyak waktu yang tersedia
Belum puas?

Ludahi saja wajahku ini
Dari pada kau renggut harta termuliaku ini
Kenapa tidak kau cincang saja sekalian tubuhku ini?
Dari pada kau rampas kehormatanku
Yang selalu ingin ku pertahankan

Aku memang wanita lemah
Tak punya rudal tuk hancurkan nafsu iblismu
Tak punya geranat tuk ledakkan kegilaanmu
Juga tak punya lemari es untuk bekukan tingkah liarmu

Hanya satu yang ku punya
Yaitu pendirianku
Ingatlah selalu bahwa..
"AKU MENCINTAIMU TUK BAHAGIAKANMU. AKU MENYAYANGIMU TUK TENTRAMKAN HATIMU. DAN, BILA SUATU SAAT NANTI AKU MEMBENCIMU, ITU BUKAN BERARTI AKU INGIN MENYAKITI HATIMU.."

love you.. my babe..

Betapa Ingin Bersamamu

Ingin sekali, ingin sekali
Bersamamu menghitung bintang di langit
Mendadak hujan rintik di musim semi
Betapa ingin ku bersamamu
Mendengarmu menceritakan kisah lama
Mengukur dalamnya cinta di matamu

Betapa ingin bersamamu
Menyaksikan terbenamnya matahari di cakrawala
Agar hari terangkau jadi kenangan
Kenangan kita yang terindah

Betapa ingin bersamamu
Susuri gunung dan sungai
Arungi laut ke ujung dunia
Agar hari terangkai jadi kenangan
Kenangan kita yang terindah..

Cinta Mendalam, Hujan Nan Berkabut

Cinta mendalam, hujan nan berkabut
Gedung-gedung basah tersiram hujan
Teringat saat pertama kali berjumpa
Kau dan aku, ramainya jalan raya
Walau angin bertiup kencang
Segala tetap tampak indah

Cinta mendalam, hujan nan berkabut
Belum terlambat untuk bertemu
Untuk apa terburu-buru
Gunung dan sungai beriringan
Senandung lengking teteskan air mata
Cinta pun bergejolak

Cinta mendalam, hujan nan berkabut
Menatap gedung-gedung tinggi
Cinta dipendam sendiri
Berharap di musim semi, musim panas, gugur, dan dingin
Berharap tanpa terbalas, ke manakah burung bisa terbang pulang?